Halaman

Rabu, 11 Desember 2013

Mengertilah..

Saya sudah lama disini, berteman dengan sepi dan dengan terpaksa mencintai apa yang saya benci. Tanpa bisa lebih memahami dan mencari arti dari semua ini, saya hanya bisa menangis ditengah kesendirian sepanjang tahun ini. Entah bagaimana caranya saya mengungkapkan perasaan ini, kekecewaan yang begitu mendalam dan kesalahan yang begitu rumit dan kesemuanya bersatu memenuhi tahun ini. Harusnya saya bisa lebih bahagia dengan ketidak hadiran mu, tapi saya terlalu berharap kamu disini untuk memperbaikinya. Sulit bahkan mustahil untuk seorang seperti saya berharap kamu yang begitu berharga untuk hadir ditengah penderitaan gadis kecil yang bermimpi ingin memiliki kebahagian. Benarkah saya salah untuk bisa memohon kepada mu agar kamu mau menemani hidup saya dan menjadi pelangi indah dalam jiwa kecil ini. Sulit, amat sulit. Mengertilah betapa saya menginginkan mu lebih dari yang kamu tahu. Ketahuilah bahwa saya amat menyayangi mu lebih dari sekedar kata yang bisa diungkap oleh bahasa. Rasa ini begitu menyesakkan hingga tak lagi terungkap oleh kata dan bahasa apa pun. Perasaan yang tak bisa disangkal dan tak juga bisa dilupakan membuat saya kian menjerit ingin berusaha menepis tapi percuma. Jiwa yang termakan perasaan bersalah, “tak seharusnya begini bermimpi begitu sakit dan mengharap sesuatu yang terlalui sulit! Sadarlah bahwa dia tak bisa membuat kita bahagia!”. Jeritan batin dan jiwa yang tak hentinya mengingatkan hati, tapi percuma karena semua telah terjadi. Saya tak akan henti berharap hingga waktu itu beranjak dari alam tempat saya diizinkan hidup. Yang saya tahu saya hanya harus berusaha dan bekerja lebih keras, mengingat hasilnya nanti biarkanlah yang lebih berkuasa yang mengaturnya. Saya hanya bagian kecil dari hal kecil yang ada dan biarpun begitu bukan salah saya jika ingin berharap hal yang terlalu besar bahkan untuk hal macam kecil seperti saya.

Kita diciptakan dengan perbedaan yang sederhana namun kompleks. Tak bisakah kita saling mengerti perasaan satu sama lain dimana nanti akan ada keselarasaan di ujung keheningan disaat kita mencoba untuk saling menjaga. Mengerti bukan berarti memberi dan yang saya ingin bukanlah sekedar arti memberi tapi sebuah wujud dari ketulusan dan kejujuran itulah yang saya hargai. Perasaan ingin dan ego yang tinggi memaksa saya untuk selalu berkata mengertilah bahwa saya sangat menyangi mu dan begitu menginginkan mu ada dalam dunia kecil ini. Mengertilah bahwa tak bisa selamanya saya menyimpan perasaan ini seperti yang selalu kamu harapkan. Perasaan ini begitu besar dan sudah terlanjur menguasai banyak ruang dalam hati yang kosong akan kepedulian. Mengertilah bahwa kehadiran mu begitu berarti untuk jiwa yang penuh derita ini. Mengerti bahwa rasa ini tulus hanya tertuju untuk mu.

Senin, 09 Desember 2013

Cinta, Sahabatan, Saudaraan, dan Teman

Yang ku ingat awalnya biasa saja, tapi perlahan semuanya nampak tak biasa. Perasaan yang terlalu kuat mengikat membuat mata ini tak sanggup terkejap. Bisakah sekali lagi aku melihat foto itu untuk bisa mengingat seperti apa diriku saat aku masih memiliki kekuatan. Hidup yang begitu saja terlewat, terjejaki oleh jejak yang tak pasti yang tak bisa lagi diungkap oleh teori. Praktek yang berjalan tanpa teori yang dengan hebatnya melahirkan keajaiban langkah tanpa landasan apapun. Waktu yang berputar terus menerus tanpa peduli dengan apa yang sedang terjadi. Karena jalan ini ada maka akan ada yang menempuhnya, meski tak pasti nantinya jelas aka nada ujung akhir dari segalanya. Yang terasa tak selamanya harus diungkap dan selama perasaan itu ada maka nikmatilah sebelum waktu yang tergantung di atas ubun-ubun menjadi terhenti dan kita pun hanya bisa menyesalinya. Semua apapun itu yang telah terjadi biarpun itu buruk ataupun baik, itulah hal terbaik yang dianugerahkan Tuhan kepada semua umatnya. Tak perlu merasa malu apalagi ragu hanya untuk mengakui, disini kita bisa bebas terbuka.
Batasan yang selalu saja tak terlihat tiap saat aku berusaha untuk memisahkan yang ada, tapi semuanya sama saja. Saat kapan ketika aku boleh menyebut mu lebih dari sekedar hal spesial dan paling utama dalam hidup ku. Aku merindukan sentuhan yang selalu kau beri. Sentuhan mengerti dan selalu ada untuk bisa menghilangkan jenuh yang kau tahu sendiri semuanya tak kan sama. Hadirkan aku dalam mimpi mu dan jadikan aku yang terindah dalam hidup mu. Izinkan aku bisa bersama mu lebih lama dan semua kan terasa seperti terulang kembali. Beri aku jalan untuk menyusuri hati mu. Perasaan ini begitu berarti hingga tertuntun menuju tempat terindah dalam hati mu. Perasaan ini begitu berarti hingga akhirnya nanti tertinggal pada tempat yang abadi. Beri aku kekuatan jika memang kita tak akan bisa berjalan pada jalan yang sama. Berikan aku cahaya yang sempat ku titipkan pada mu. Diri mu berarti walau waktu ini terasa semakin lama berjalan. Cita ku tak hanya satu dan bagian dari itu kan tetap ku titipkan pada mu.
Esok bukan lah hal pasti mengingat kini tak juga bisa member kata tidak untuk keraguan. Yang ku tulis tak selamanya adalah hal yang ku ingin, tapi nanti ku harap semua bisa ku atasi.

Kita lahir dari perbedaan yang sama dan dalam gelap yang sama kita dipertemukan. Jadilah pada saat itu awal jejak kita berdua dalam harmoni music langkah hidup kita. Melalui perbedaan dengan duri siksaan yang ku biarkan tertancap hampir diseluruh permukaan tubuh ku. Biarlah. Itu hanya bisa melukai raga ku, bukan hati ku. Hal yang ku harap memang selalu seperti itu. Lebih baik kau sakiti raga ku, jangan batin ku! Hingga akhirnya aku sadar, sakit batin berawal dari luka raga yang merambat hingga menyentuh batin. Jalinan yang berusaha aku rapatkan, serta tali yang berusaha aku ikatkan dengan kuatnya. Percuma. Kini semua terasa sia-sia. Lihat mata ini yang tak hentinya menitikkan air mata yang bertanda betapa perihnya hati yang diselimuti luka yang tak bisa terobati.

Selasa, 26 November 2013

Kembalilah

Harusnya saya memang kembali ke sini, ke dunia yang tanpa ada batasan apa lagi konflik yang mungkin saja terjadi di dalamnya. Inilah dunia yang tadinya berusaha saya jauhi karena tak sanggup untuk mengingat janji yang harusnya bisa saya tepati dalam waktu dekat ini. Tapi mau bagaimana lagi? Waktu sudah berjalan begitu lama dari waktu yang harusnya  bisa saya manfaatkan untuk hal yang lebih baik. Tak ada yang bisa di salahkan jika sudah begini. Tapi seperti biasa yang mungkin sudah tak perlu ditebak, saya menyalahkan diri saya sendiri. Mau apalagi? Saya tak bisa menyalahkan orang lain begitu saja, saya berpegang teguh bahwa apa yang saya jalani dalam hidup ini adalah berkat karma yang saya bawa sejak lahir dan ada sejak lama dari yang bisa saya ketahui. Bukan maksud saya untuk menyombongkan diri atas apapun yang sudah bisa saya ketahui di dewasa kini. Saya disini hanya menjadi mahkluk hina yang mencoba untuk mengeluarkan suatu hal yang saya sendiri tidak bisa memahami apa itu.
Sesuatu selalu terasa bergejolak dalam hati ini tanpa tahu itu apa dan mengapa bisa terjadi begini, saya hanya bisa diam. Andaikan saya bisa berada pada posisi saya yang dulu dimana tak pernah ada kata sepi rasanya selain ditemani oleh kawan lama yang tak henti mengumbar canda. Tawa yang kami buat memang tak semenggelikan seperti mereka yang mempunyai humor tinggi. Cukup hanya dengan itu saja kami sudah merasa bagai saudara. Kebebasan yang kami rasa amatlah begitu berasa dalam nafas hidup yang rasanya tak tahu akan berakhir dimana. Yang kami percaya kami akan terus bersama hingga nanti nafas kami menemukan tempat terakhir yang ingin mereka jejaki. Kaki yang sejatinya akan meninggalkan jejak yang telah kami lewati, tapi dengan kisah yang kami pahami dan begitu kami nikmat kaki ini tak hanya sekedar menjadi peninggal jejak tapi kaki ini akan menjadi penghantar kami di kebahagiaan terindah kami di penghujung sana.
 Persahabatan yang kata sahabat lebih dari sekedar pacar, istimewa dan begitu berharga. Memang begitu adanya dan memang begitulah yang kami semua jalani. Kami memang masih terlalu dini untuk bisa membagi dan menyimpulkan sendiri. Tapi beginilah kami yang akan terus mencoba dan tak lelah pula untuk membenahinya nanti di saat kemampuan kami terisi kembali dan lebih tangguh lagi. Meski kini semua terasa begitu istimewa tapi tetap saja sisi gelap yang berusaha tak didekati semakin lama kian akan mendekat dan tibanya nanti harus ada cahaya yang menerangi dan membenahi apa yang ada rusak disana.
Sahabat yang tak bisa dibiarkan pergi begitu saja meski ia atau diri ini sendiri yang bersalah. Saya hanya ingin menahan sahabat saya! Harta paling berharga yang menjadi pelengkap dari kesempurnaan karma serta hasilnya di dunia. Sehina apapun dia sekarang, tetap saja kami pernah sama-sama tulus saling memahami. Kami yang senantiasa melangkah bersama memalalui rintangan yang kami sendiri pun tak yakin untuk bisa menyelesaikannya. Ini kami dan tak bisa menjadi dua hanya karena masalah dunia keji yang berusaha memisahkan kami. Uji yang begitu menantang membuat kami dibutakan dari segala keberhasilan perjuangan yang seharusnya kami sadari. Tuhan Maha Tahu siapa saja yang pantas di uji. Saya pemikir dari segala tulisan yang saya buat dan sekarang saya adalah pemikir dari segala pernyataan yang bisa saya nyatakan. “Kita ini manusia kuat kawan, Tuhan mencoba menguji kebersamaan kita dengan hal kecil semacam ini. Kembalilah kawan.. tunjukan pada Tuhan bahwa kita pantas untuk menggenggam bintang besar yang ingin kita miliki. Tunjukan siapa kita!”
Andai .. hanya bisa berandai-andai di depan kaca ini. Tuhan Yang Maha Adil, tunjukan arti dari jejak kami yang sudah lama kami lalui. Hingga kini saya masih menanti sahabat saya kembali meski takut untuk menerima kenyataan dan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi, saya percaya, saya selalu percaya.. Engkau tak akan member beban lebih dan lebih besar dari kemampuan hamba-Mu ini.


“Saya kangen kamu dan saya tahu kamu tak pernah ingin tahu itu.”

Jumat, 18 Oktober 2013

Tak Semudah Saat Ia Datang


          Punya teman cowok yang over PD (percaya diri), siapa lagi kalau bukan Rendi. Emang sih postur badan oke, otak lumayan lah, asik, seru, walaupun kadang nge-krik sendiri. Tapi namanya manusia pasti ada saja kurangnya dan biarlah itu menjadi titik hitam yang tak perlu di ungkap secara gamblang. Rendi, yang mungkin banyak buat cewek mencoba untuk mengenal dia lebih jauh ternyata bisa juga kurang peka dengan sekitarnya. Tidak usah terlalu jauh memandang, lihat saja yang ada di sekitar. Senyum tulus tanpa rasa terpaksa yang senantiasa memperlihatkan wajah riang gembira meski di cela. Gadis imut yang selalu menampakkan wajah tak ada masalah, wajah yang selalu membiarkan senyum bahagia muncul secara alamiah seakan membuat orang yang memandangnya menilai bahwa ia adalah gadis periang yang di utus Tuhan untuk membagi kebahagian yang ia punya kepada semua orang yang ada disekitarnya. Tulus dan penyabar meski kadang ingin menentang tapi itulah Tita yang ku kenal, gadis tanpa masalah yang selalu ceria.
          “Aku gagah kan..”, pernyataan over  PD dari siapa lagi kalau bukan Rendi. Aku yang mendengar hanya tersenyum sinis ke arahnya seolah mengatakan bahwa aku amat tidak setuju. Tapi selepas dari itu secepat kilat aku bisa melihat seseorang yang ada di sudut keramaian memperhatikan Rendi dengan mata berbinar. Senyum tulus, itulah yang aku lihat dan aku tau alasannya.
          Cinta yang dipendam dan mungkin akan usang jika tak tertuang. Tapi bagaimana bisa terungkap jika pertanda adanya perasaan yang sama diantara dua insan belumlah menampak. Apa yang ada bisa saja tak terlihat, tapi mereka yang terlalu peduli akan selalu bisa melihat apa yang tak kasat menjadi amat jelas di depan mata.
          Gadis yang tulus, yang senantiasa membantu segala kesusahan yang dialami dan dihadapi Rendi. Gadis yang tak pernah menyerah memberi pertanda bahwa ia cinta, ia peduli, dan betapa ia ingin memiliki dan dimiliki oleh dia yang tak henti ada dalam penglihatannya. Rendi yang terlalu percaya diri  dan terlalu tidak peduli, masa bodoh dengan yang terjadi, asal ia tak rugi maka tak akan ada masalah baginya. Ketulusan yang diberi tak kunjung memberi arti hingga akhirnya kesakitan mulai merajai sisi gelap yang mulai hadir atas kesabaran yang terlalu meninggi dan tak membuahkan hasil.
          “Siapa ya yang mau jadi pacar aku? Bosen jadi jomblo”, nada merintih yang di buat-buat itu terlihat jelas dari mimik wajahnya. Rendi yang asal ketus mencoba untuk meminta pendapatku. Tapi aku lebih masa bodoh, dia lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Sekali lagi aku melirik ke sudut lain. Tentu saja di sana aku menemukan Tita yang sepertinya ingin benar-benar mencapai puncak dari keinginannya. Dan benar saja, Tita langsung membuka suara dengan mantapnya. “Aku mau kok Ren..”, senyum tulus terlihat dari sudut bibirnya dan spontan membuat semua yang ada di sekitarnya yang mendengar bersorakan meneriakinya. Rendi hanya menatap bingung dan acuh, sungguh jika aku menjadi Tita akan ku tampar saja laki-laki itu.
          “Ha? Kamu?? Tidak tidak”, kata-kata itu pastilah amat menyakitkan terdengar di telinga Tita. Tapi ia tetap saja tersenyum dan aku tahu dibalik senyum itu ada luka yang timbul akibat dari kata-kata Rendi tadi.
          “Sombong kamu Ren! Tita itu tulus jawabnya.. Kamu yang sopan dikit dong sama cewek! Belum pernah kena tampar ya?”, aku ketus saja serasa aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Tita. Biarlah dengan pendapat orang yang mungkin menganggap ku aneh. Aku hanya peduli dengan ketulusan apalagi jika itu terpendam dan disakiti begitu saja tanpa pernah bisa dicoba untuk dimengerti.
          Ketulusan yang bertahan hingga bentang waktu yang panjang, serasa tak ada rintangan terasa meski hujan badai telah dilanda. Aku yang tak tahu pasti tapi tetap percaya pada keyakinan bahwa cinta tak mudah pergi seperti semudah ia datang menghampiri. Dan beginilah adanya kini, Tita yang ku rasa semakin tersakiti oleh ketidak pedulian Rendi yang malah asik dengan kepentingannya sendiri dan terlebih lagi dengan sengaja menyakiti Tita di depan matanya.
          Wajah bangga berusaha jelas untuk digantungkan di atas wajahnya, “Pilih Bunga atau Intan ya? Susah emang kalau jadi cowok ganteng. Susah milihnya kalau sudah kayak begini.” “Resiko orang ganteng Ren..”, sahut salah satu teman ku yang bernama Rio. Yah, dia hampir sama saja dengan Rendi, tapi ia tidak selebih Rendi yang rasanya selalu ingin ku lempar dengan sepatu.
          “Minta pendapat saya Ren? Lihat disekitarmu yang lebih tulus sama kamu”, Rendi sadar siapa orang yang ku maksud dan ia hanya mencibir tanda tak peduli.
          Semakin lama Rendi semakin sibuk dengan dua gadis baru yang sedang ia dekati dan ingin ia pacari. Hari-hari Rendi selalu dipenuhi dengan kehadiran dua gadis itu, entah selalu hadir lewat cerita yang dikumandangkan Rendi, sampai peristiwa nyata yang tertangkap mata saat Rendi sedang bersama dengan kedua gadis itu dalam tempat dan waktu yang berbeda. Sungguh dekat terlihat dan membuat siapapun yang melihatnya akan berpikir bahwa mereka memiliki hubungan special. Seperti tak ada jarak diantara keduanya, terlebih saat Rendi sedang bersama Bunga. Terlihat begitu manis sampai-sampai tak ada satu pun yang ingin mengganggu percakapan yang sedang berjalan diantara keduanya.  Perasaan suka yang tergambar jelas dari setiap ucapan dan gerak gerik dalam kebersamaan mereka, menguatkan pernyataan jelas bahwa mereka lebih dari sekedar teman. Dan akhirnya semua tahu bahwa Rendi telah memilih Bunga dan itu berarti Rendi telah memiliki seseorang dan dimiliki oleh seseorang yang tak lain adalah Bunga. Gadis tinggi semampai dengan paras menawan yang membuat hati dan perasaan siapa pun yang melihatnya merasa damai dan tak pernah bosan untuk melihatnya lebih lama. Mungkin itulah yang dirasakan Rendi hingga akhirnya ia menjatuhkan pilihaannya kepada Bunga.  
          Kebahagiaan yang selalu menemani hari Rendi dan selalu berbanding terbalik dengan keseharian Tita. Rasa sakit yang merasuk hingga menembus hati kecil yang tadinya berdinding tebal yang terbuat dari kekuatan ketulusan yang tak pernah goyah meski kepedulian tak kunjung singgah mencicipi ketulusan yang harusnya diberi. Beginilah akhir yang diberi, tanpa perlawanan Tita hanya mengalah. Mengalah dengan perasaannya bahwa ia tak bisa memenangkan apa yang selalu ingin ia menangkan. Mengalah untuk kesekian kalinya atas cobaan yang silih berganti menggoyahkan kekuatan cinta yang penuh ketulusan. Mengalah untuk bisa menang dan bangkit dari keterpurukan yang mungkin akan menemaninya dalam beberapa rentang waktu penuh keperihan. Aku percaya Tita adalah gadis kuat bahkan lebih kuat dari yang ku lihat, pastinya ia akan sanggup melalui hari-hari menuju pengobatan diri untuk segera meninggalkan perasaan lama dan merelakan apa yang telah terjadi dan menjadikan itu sebagai catatan pengalaman di lembar hidup yang telah lewat.
Cinta yang lahir dari ketulusan akan berbuah manis pada akhirnya. Tapi buah yang manis itu tak harus hadir dari berkat kumbang yang diinginkan menyerbuki bunga cinta yang telah bermekaran. Ada takdir lain yang diberi Tuhan sebagai karunia terindah yang akan terasa jauh lebih manis dan lebih indah sebagai hadiah ketulusan yang terus di jaga dan dibiarkan tumbuh dengan inginnya. Cinta yang tak akan mudah menghilang bahkan memudar seperti semudah ia hadir dikala taman jiwa yang sepi dan penuh kerinduan akan rasa kepedulian dari jiwa lain. Cinta yang bersemi hingga berbuah manis meski tanpa benih unggul yang diinginkan, pasti ada saatnya nanti buah yang jatuh akan lebih terasa manis dari yang diharapkan.
           Begitulah akhirnya Tita yang terus bangkit dan akhirnya menemukan cahaya baru dari ketulusan yang selama ini kasat mata olehnya. Bayang dari masa lalu dimana cinta itu pernah tumbuh dan setulus kasih yang selalu ia bayangkan sekejap hadir dalam waktu yang tak terduga. Kembalinya sang bintang dari masa lalu yang muncul sebagai mentari di kesendirian hati yang sedang terlukai. Wawan sang pahlawan bisa jadi menjadi labuhan ketulusan yang selama ini terpendam. Biarlah ia yang menyiakan mendapat ganjaran. Kehidupan di depan tak ada yang tertebak dan nyatanya cinta terbalaskan oleh bintang lain yang lebih benderang dan nyata dihadapannya. Cinta memang tak akan mudah menghilang semudah ia datang.
~ SELESAI ~






Karya               :       Ni Putu Setia Devi Astini
No. absensi       :       16
Kelas                :       XI-SKS

Sekolah            :       SMAN 1 Mataram

Senin, 23 September 2013

Bercermin pada 2 cermin dengan sudut 45 derajat

Ada dalam 3 kubu yang berbeda.. harus penuh hati-hati setiap kali ingin mengambil suatu langkah yang harus punya alasan jelas apa sebab dan tujuannya. Salah sedikit saja bisa fatal akibatnya. Diibaratkan seperti mencoba mengambil buah yang amat manis di pohon yang tumbuh di bibir jurang dan pada ranting pohon tempat itu berada ada seekor ular buas yang sedang tidur. Saat mengambil buah harus perlahan karena suara gemerisik daun yang tersentuh akan membangunkan sang ular. Ketika menaiki pohon pun harus tenang tanpa menimbulkan suara yang bisa membangunkan sang ular dan agar tidak terjatuh ke dalam jurang yang penuh tumbuhan berduri.
Selalu mencoba untuk tidak berbohong dalam keadaan apa pun kecuali jika terpaksa dan demi kebaikan, tapi kebohongan rasanya tetaplah salah. Walau dengan beribu alasan atau setidaknya sepuluh alasan tetap saja berbohong itu salah. Sadar bahwa kebusukan yang disembunyikan pasti akan tercium juga secerdik apapun usaha untuk menyembunyikannya. Tapi, aku masih manusia normal yang takut kebohongan ku sendiri akan terbongkar. Tak sanggup melihat wajah yang selama ini berusaha ku jaga agar selalu tersenyum dan ceria berada di sekitar ku dan sudi kiranya memegang gelar sebagai teman dalam hidup ku. Cinta yang tumbuh dari benih kasih saying sebagai saudara di lingkungan pergaulan dan pertemanan, tak ingin ini ternodai dan lebih dari itu tak ingin menjadi keeping penyesalan yang tak akan bisa di ubah.
Maaf, kata yang mudah tapi tak semudah untuk diterima oleh mereka yang merasa tersakiti dan terhabisi rasa welas asihnya. Tak sepadan dengan itu, kebencian bisa saja merasuk hingga kata maaf itu tak akan bisa terdengar apalagi bisa diterima. Pertahanan yang tak pernah bosan dikuatkan akhirnya runtuh dengan setitik kesalahan yang terus berusaha ditutupi dengan seribu satu macam cara. Bahagia yang terasa hanya sesaat hanya bisa terbalas tangis penyesalan yang tiada henti singgah dalam benak dan kehidupan yang akhirnya hanya penuh penyesalan. Kasih yang tulus hanya dianggap kedok untuk bisa dimaafkan. Memang kemungkinan terbesar bahwa tidak ada seorang penjahat yang dengan sadar mengakui kesalahannya di depan jaksa. Kejahatan ini memanglah bukan tindak criminal yang benar-benar diatur dalam pasal-pasal Negara yang berarti tindak pidana yang harus ditindak lanjuti. Tapi aku tau dan aku percaya, dalam pelajaran kehidupan ini tidak dibenarkan.
Teman, lebih dari sekedar teman dan selamanya kita akan menjadi bagian dari keluarga kecil dalam kisah perjalanan hidup yang keras ini. Bukan untuk berpuitis ria ataupun mengumbar penyesalan agar dimaafkan. Tapi inilah ketulusan yang lebih sering terbalas oleh cacian. Maaf karena selama ini menjadi penyelinap dalam cerita hidup mu sehingga jalan cerita mu menjadi tergores keburukan dari jejak hidup ku dalam cerita mu. Penyesalan seumur hidup yang tak akan bisa terlupakan akan memberikan sebuah pelajaran berharga dalam hidup. Penyesalan selalu datang belakangan dan tak akan terlupakan.

Salam kasih yang tulus untuk semua teman saudara ku dimana pun kalian berada.

Selasa, 30 Juli 2013

CERITA CINTA

Seperti yang aku tau terlalu banyak masalah percintaan di dunia ini yang rasanya tak sanggup ku sebutkan satu persatu apalagi jika kalian ingin lebih tau secara detail tentang satu bagian dari keseluruhannya yang tak terhingga. Cukup banyak teman ku rasa untuk saat ini. Cukup banyak yang harus ku ingat dan lebih banyak untuk ku pelajari sendiri. Entah kenapa mempelajari diri seorang teman terasa menyenangkan bagi ku. Maksud ku bukan untuk menilai keburukan atau kelemahannya saja, tapi tentu saja kelebihan di setiap mereka. Aku selalu bahagia memiliki mereka, setidaknya sampai detik ini aku belum pernah mendengar dengan amat jelas dan amat langsung pernyataan “aku benci kamu” yang ditujukan pada ku.. Oke, kembali ke topik utama. Sebenarnya aku ingin sedikit bercerita tentang masalah percintaan beberapa teman ku yang sekiranya mungkin ku ketahui dengan cukup detail. Yang pertama dan tetap ku dengar selama satu tahun terakhir ini setidaknya tentang perbedaaan mendasar, apalagi jika bukan (maaf) Agama. Mungkin aku pernah menjadi salah satu dari daftar orang yang mendapati kasus seperti ini dalam kehidupan percintaan. Tapi kali ini aku tak membahas tentang diri ku sendiri, rkesannya kurang baik dan terlalu berharap bantuan kepada orang lain secara langsung. Mungkin alangkah baiknya jika mencoba untuk membantu orang lain terlebih dahulu, jangan jauh-jauh! Cukup mulai dari teman sepermainan saja.
Sebut saja namanya Ayu. Cukup pasaran memang nama ini, tapi cukup untuk menyatakan secara tersirat siapa sebenarnya gadis yang sekitar 6 bulan lagi akan berusia 17 tahun. Ayu amat sangat periang, dia salah satu teman terbaik ku yang tak akan diam bila aku disakiti atau dicaci (walaupun aku tidak terlalu peduli dengan apa pun yang orang lakukan padaku). Menurut ku Ayu bukan sekedar gadis periang, tapi juga dia pandai bergaul dengan siapa saja dan tak pernah memandang mereka begitu rendah kecuali jika penampilan dan gaya mereka tak disukainya. Karena kepandaiannya bergaul dengan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja membuat Ayu mempunyai banyak teman atau sekedar kenalan dan kesemuanya itu tak hanya di dunia nyata tapi di dunia maya pun Ayu tetap eksis menjalani kehidupannya dengan banyak orang yang ia sukai “masuk kriteria teman baginya”. Alasan mendasar karena punya banyak teman dan ku rasa cukup berpenglaman dalam menyeleksi sesuai kriterianya sendiri. Ayu juga bisa menjadi jatuh cinta kepada lawan jenis yang awalnya kenalan dan semakin lama semakin terasa dekat dengannya. Itu wajar, sekali lagi memang wajar. Usia Ayu sekarang kira-kira 16 tahun berjalan menuju 17 tahun, itu adalah masa-masa dia menjadi remaja dan kadang disebut orang sebagai ABG alias Anak Baru Gede yang sudah tahu cinta-cintaan. Jadi bukan hal yang tak lazim lagi jika seorang gadis mulai merasakan jatuh cinta, walaupun ku rasa ini bukan untuk yang pertama kalinya bagi Ayu. Saat itu Ayu dekat dengan Muhammad (sekali lagi nama disesuaikan dengan gambaran seseorang yang tersirat) yang 3 tahun lebih tua dari pada Ayu. Mereka berkenalan lewat dunia maya yang sekarang ini bahkan anak-anak SD saja sudah tau dan bisa mengaksesnya dengan bebas, apa lagi kalau bukan facebook (cukup dan amat lazim terdengar kan?). Dari sanalah semua berasal dan kedekatan mereka pun mulai memasuki babak baru yang bukan hanya sekedar teman kenalan dan chatting di social media tapi sudah menjadi dekat yang kemungkinana besar kea rah pacaran (percintaan). Dan benar saja, beberapa bulan atau mungkin dibilang sekitar satu tahun lamanya mereka pun jadian. Butuh waktu cukup lama ternyata bagi mereka untuk saling mengenal lebih jauh sebelum akhirnya memutuskan suatu tali ikatan baru diantara mereka. Berbulan-bulan berikutnya cukup lancar dan saat memasuki jenjang pedidikan baru yaitu SMA, disitulah aku dan Ayu bertemu sebagai teman seperjuangan hingga saat ini dan setahun kedepan. Jadi untuk sementara bisa disimpulkan bahwa Ayu jadian dengan Muhammad lumayan jauh sebelum mengenal ku. Dan mungkin nanti kalian akan mengira aku sebagai biang dari hal terburuk dari hubungan mereka. Hamper setahun dan akan setahun lamanya hubungan mereka berjalan. Sehari-harinya Ayu tak pernah henti menceritakan semua hal tentang Muhammad yang membutnya sungguh sangat tertarik. Mendengar itu aku cukup tahu bahwa Ayu memang tulus tapi cukup janggal rasanya karena ada perbedaan mendasar diantara mereka yang ku rasa terlalu sulit untuk disatukan. Ayu, gadis berbadan imut yang memuja dewa-dewi sebagai manifestasi atau sinar suci Tuhan dengan segala kepercayaannya yang ku rasa banyak yang berbanding terbalik dengan keyakinan Muhammad sebagai bagian dari orang-orang yang mengharamkan sesuatu dan mengatakan bahwa selain mereka adalah kafir. (Maaf sebelumnya jika diantara kalian tentuya merasa tersinggung. Ketahuilah bahwa ini fakta dan aku tak mengada-ngada, selain itu kita juga sudah sampai pada tahap serius dalam bacaan ini. Jadi mohon dengan segala pemahamannya bahwa ini berdasarkan kisah nyata tanpa otak kreatif oknum tak bertanggung jawab). Sesuatu yang aku sadari dan ku rasa disadari juga oleh Ayu, tapi aku tetap membiyarkannya sekaligus melihat perkembangannya. Toh ini masih dalam tahap pacaran kan? Belum seserius itu untuk melangkah terlalu jauh, lagi pula mereka masih terlalu muda untuk memikirkan masa depan dan rumah tangga. Beberapa waktu di saat hubungan mereka dalam masalah aku sungguh tak tega melihat raut wajah gadis yang selama ini selalu ceria berjalan disamping ku mendadak menjadi lesu dan sedikit berkantong karena tidak tidur semalaman dan mungkin menghabiskan waktu seharian menangis di rumah teman dekatnya yang lain selain aku. Aku mencoba untuk memotivasinya semampu ku karena ketahuilah aku tak secanggih itu untuk bisa mengembalikan sesuatu yang seharusnya ada. Kalimat yang ku rasa tak seharusnya aku ucapkan saat berhadapan dengan Ayu yang sedang bersedih akhirnya tanpa sengaja ku ucapkan dengan blak-blakan. “kalian harusnya putus sejak lama”. Aku sendiri tak menyangka mengatakan hal yang selama ini ku tahan, tapi aku tak sanggup melihat Ayu. Maafkan aku. Dari raut wajahnya Ayu tentu terluka mendengar kalimat yang ku ucapkan, tapi ku rasa ia cukup tau apa yang ku maksud. Lama setelah itu ku rasa terus saja semakin buruk walau terdengar baik bagi mereka yang menyukai persatuan tanpa mengenal perbedaan. Tapi persatuan antara Ayu dan Muhammad ku kira bukanlah hal yang bagus. Aku yang sekarang masih menjadi teman dekat Ayu walaupun berkeyakinan sama ataupun tidak dengan Ayu pasti akan memberikan sesautu yang terbaik bagi teman terbaik yang kau kenal dan dekat dengan mu saat ini. Jadi jangan salahkan aku walaupun terdengar menyakitkan tapi begitulah yang nyatanya terbaik untuk mu. Akhirnya hal yang ku tunggu terjadi juga dan sekarang babak barunya setelah mereka putus adalah move on. Dari artikel yang pernah ku baca dan hal nyata yang terjadi, aku tahu bahwa laki-laki lebih cepat move on disbanding dengan perempuan. Satu lagi perbedaan yang harus kalian sadari sebagai perempuan maupun laki-laki. Menyangkut hal itu baru tadi ku dengar Ayu mulai meminta saran serius dari ku bagaimana bisa move on lebih cepat sama seperti aku. Ya, aku juga pernah mengalami hal serupa Ayu dan ku rasa aku sudah cukup move on  dari baying-bayang masa lalu walau belum sepenuhnya. Yang bisa ku katakana tentulah yang ku lakukan. Jangan sering mengingat-ngingat masa lalu mu saat bersama dia apalagi sampai membayangkannya. Umumnya perempuan selalu dihantui oleh masa lalu nya baik itu buruk ataupun indah. Baying masa lalu selalu mengikuti dan terkadang menghantui seorang wanita seumur hidup mereka. Ku rasa tak cukup banya diantara mereka yang bisa benar-benar terlepas dari masa lalu. Cari kesibukan baru. Dari hal banyak yang ku dapat itu hal yang menurut ku sangat jitu untuk membuat mu setidaknya sedikit melupakan masalah yang sedang kamu hadapi. Walaupun di awal percobaan terasa berat sebaiknya terus lawan perasaan itu dan pada akhirnya pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi dirimu sendiri bahkan orang lain. Mulailah dari hobi kecil yang mungkin sempat kamu tinggakan. Jangan mengatakan bahwa hobi mu itu adalah SMS-an atau chatting karena itu akan semakin memberatkan mu untuk kata move on!. Cara terakhir yang mungkin akan membantu dan butuh pikir panjang mungkin adala mencari yang baru. Dalam hal ini tentulah kalian tau apa hal baru itu. Ya, pacar atau pasangan baru. Walaupun hanya jadi gebetan sementara lumayan juga kan untuk jadi obat pelupa si-dia yang sudah seharusnya lenyap dari kehidupan mu dan menjadi masa lalu mu. Tapi ingat pikir-pikir lagi, jaga-jaga kalau kalian masih trauma dengan namanya cinta. Ku pikir hanya itu saja yang baru sukses ku jalani untuk beberapa saat ini. Kedepannya semoga semakin mudah dan lancer untuk dijalani.

Dan.. untuk teman baik ku Ayu (disamarkan) jangan sedih-sedih lagi. Kamu pasti bisa move on, semua butuh waktu dan waktu tiap orang itu berbeda. Jalanin aja dulu semuanya dengan apa adanya. Seperti yang pernah kamu bilang “dinikmati aja.. jangan dirasain..”. Kamu cewek tegar, anggap aja ini jalannya kamu jadi cewek dewasa yang lebih mantap. Everything’s gonna be okay J

Selasa, 02 April 2013

Jiwa yang Salah?


Yang dia tau hanya meminta dan memohon bantuan. Mencoba untuk selalu menjadi terpandang dan selalu dibutuhkan walau hanya untuk sekedar bercanda gurau. Menjadi indah, anggun, cerdas, dewasa, dan terlihat riang adalah tujuannya untuk ada dalam lingkup yang cukup untuk membuat semua mata memandangnya. Dia tak tau sesungguhya, disayangkan jika nyatanya dia hanya memandang sebelah mata dan tak menganggap. Sungguh payah berdiri disampingnya dan tak merasa dianggap ada disana. Lalu saat menjauh maka ia akan memaki dan mencibir, “pengkianat!”. Salah jika ingin menjauh saat nyatanya tak dianggap apalagi dibutuhkan? Lalu apa yang salah sebenarnya? Keberadaan jiwa yang selalu dipandang salah ini atau ini adalah kesalahan jiwa yang tak pernah menghiraukan satu jiwa yang selalu berusaha mendampinginya dalam keadaan apapun? Hebat! Sekarang aku dipersalahkan karena tak peduli. Hey! Sebenarnya siapa yang tak peduli dan tidak diperdulikan? Apa ini hanya sebuah dialog diantara orang-orang yang sama-sama buta?!!
Kata kita seperti sudah tak bermakna apapun. Kita yang selalu berarti aku dan kau atau saya dan kamu atau lo dan gue dan semua itu sudah tak bisa bermakna apapun, sedikitpun tak berbekas apa arti sebenarnya. Sebut satu kesalahan yang membuat ini semua semakin salah! Aku hanya berusaha ada, ada disamping mu, melindungi mu, memberi peringatan bahaya di depan yang mungkin saja akan kita lalui nanti, aku hanya berusaha lebih kuat dari mu untuk membuat mu bertahan, membuat mu tak perlu yang lain karena aku akan selalu ada saat kau membutuhkan ku kapan pun. Sampai kapan kau akan begini, menutup mata dan memberhentikan nurani mu yang seharusnya berjalan seiring ketulusan yang selalu aku berikan untuk mu. Jalan ini lebih berat dari sekedar gurun kering dimana dahaga selalu terasa dalam setiap gerakan langkah sekecil apapun. Karena sekecil apapun dan sebesar apa pun langkah ku untuk terus bersama mu tak akan membuat mu sadar akan jejak ku yang selalu tertinggal tepat berdampingan dengan jejak mu.