Halaman

Senin, 09 Desember 2013

Cinta, Sahabatan, Saudaraan, dan Teman

Yang ku ingat awalnya biasa saja, tapi perlahan semuanya nampak tak biasa. Perasaan yang terlalu kuat mengikat membuat mata ini tak sanggup terkejap. Bisakah sekali lagi aku melihat foto itu untuk bisa mengingat seperti apa diriku saat aku masih memiliki kekuatan. Hidup yang begitu saja terlewat, terjejaki oleh jejak yang tak pasti yang tak bisa lagi diungkap oleh teori. Praktek yang berjalan tanpa teori yang dengan hebatnya melahirkan keajaiban langkah tanpa landasan apapun. Waktu yang berputar terus menerus tanpa peduli dengan apa yang sedang terjadi. Karena jalan ini ada maka akan ada yang menempuhnya, meski tak pasti nantinya jelas aka nada ujung akhir dari segalanya. Yang terasa tak selamanya harus diungkap dan selama perasaan itu ada maka nikmatilah sebelum waktu yang tergantung di atas ubun-ubun menjadi terhenti dan kita pun hanya bisa menyesalinya. Semua apapun itu yang telah terjadi biarpun itu buruk ataupun baik, itulah hal terbaik yang dianugerahkan Tuhan kepada semua umatnya. Tak perlu merasa malu apalagi ragu hanya untuk mengakui, disini kita bisa bebas terbuka.
Batasan yang selalu saja tak terlihat tiap saat aku berusaha untuk memisahkan yang ada, tapi semuanya sama saja. Saat kapan ketika aku boleh menyebut mu lebih dari sekedar hal spesial dan paling utama dalam hidup ku. Aku merindukan sentuhan yang selalu kau beri. Sentuhan mengerti dan selalu ada untuk bisa menghilangkan jenuh yang kau tahu sendiri semuanya tak kan sama. Hadirkan aku dalam mimpi mu dan jadikan aku yang terindah dalam hidup mu. Izinkan aku bisa bersama mu lebih lama dan semua kan terasa seperti terulang kembali. Beri aku jalan untuk menyusuri hati mu. Perasaan ini begitu berarti hingga tertuntun menuju tempat terindah dalam hati mu. Perasaan ini begitu berarti hingga akhirnya nanti tertinggal pada tempat yang abadi. Beri aku kekuatan jika memang kita tak akan bisa berjalan pada jalan yang sama. Berikan aku cahaya yang sempat ku titipkan pada mu. Diri mu berarti walau waktu ini terasa semakin lama berjalan. Cita ku tak hanya satu dan bagian dari itu kan tetap ku titipkan pada mu.
Esok bukan lah hal pasti mengingat kini tak juga bisa member kata tidak untuk keraguan. Yang ku tulis tak selamanya adalah hal yang ku ingin, tapi nanti ku harap semua bisa ku atasi.

Kita lahir dari perbedaan yang sama dan dalam gelap yang sama kita dipertemukan. Jadilah pada saat itu awal jejak kita berdua dalam harmoni music langkah hidup kita. Melalui perbedaan dengan duri siksaan yang ku biarkan tertancap hampir diseluruh permukaan tubuh ku. Biarlah. Itu hanya bisa melukai raga ku, bukan hati ku. Hal yang ku harap memang selalu seperti itu. Lebih baik kau sakiti raga ku, jangan batin ku! Hingga akhirnya aku sadar, sakit batin berawal dari luka raga yang merambat hingga menyentuh batin. Jalinan yang berusaha aku rapatkan, serta tali yang berusaha aku ikatkan dengan kuatnya. Percuma. Kini semua terasa sia-sia. Lihat mata ini yang tak hentinya menitikkan air mata yang bertanda betapa perihnya hati yang diselimuti luka yang tak bisa terobati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar