Yang dia tau hanya
meminta dan memohon bantuan. Mencoba untuk selalu menjadi terpandang dan selalu
dibutuhkan walau hanya untuk sekedar bercanda gurau. Menjadi indah, anggun,
cerdas, dewasa, dan terlihat riang adalah tujuannya untuk ada dalam lingkup
yang cukup untuk membuat semua mata memandangnya. Dia tak tau sesungguhya,
disayangkan jika nyatanya dia hanya memandang sebelah mata dan tak menganggap. Sungguh
payah berdiri disampingnya dan tak merasa dianggap ada disana. Lalu saat
menjauh maka ia akan memaki dan mencibir, “pengkianat!”.
Salah jika ingin menjauh saat nyatanya tak dianggap apalagi dibutuhkan? Lalu apa
yang salah sebenarnya? Keberadaan jiwa yang selalu dipandang salah ini atau ini
adalah kesalahan jiwa yang tak pernah menghiraukan satu jiwa yang selalu
berusaha mendampinginya dalam keadaan apapun? Hebat! Sekarang aku dipersalahkan
karena tak peduli. Hey! Sebenarnya siapa yang tak peduli dan tidak
diperdulikan? Apa ini hanya sebuah dialog diantara orang-orang yang sama-sama
buta?!!
Kata kita seperti
sudah tak bermakna apapun. Kita yang selalu berarti aku dan kau atau saya dan
kamu atau lo dan gue dan semua itu sudah tak bisa bermakna apapun, sedikitpun
tak berbekas apa arti sebenarnya. Sebut satu kesalahan yang membuat ini semua
semakin salah! Aku hanya berusaha ada, ada disamping mu, melindungi mu, memberi
peringatan bahaya di depan yang mungkin saja akan kita lalui nanti, aku hanya
berusaha lebih kuat dari mu untuk membuat mu bertahan, membuat mu tak perlu
yang lain karena aku akan selalu ada saat kau membutuhkan ku kapan pun. Sampai kapan
kau akan begini, menutup mata dan memberhentikan nurani mu yang seharusnya
berjalan seiring ketulusan yang selalu aku berikan untuk mu. Jalan ini lebih
berat dari sekedar gurun kering dimana dahaga selalu terasa dalam setiap
gerakan langkah sekecil apapun. Karena sekecil apapun dan sebesar apa pun
langkah ku untuk terus bersama mu tak akan membuat mu sadar akan jejak ku yang
selalu tertinggal tepat berdampingan dengan jejak mu.