Halaman

Senin, 23 September 2013

Bercermin pada 2 cermin dengan sudut 45 derajat

Ada dalam 3 kubu yang berbeda.. harus penuh hati-hati setiap kali ingin mengambil suatu langkah yang harus punya alasan jelas apa sebab dan tujuannya. Salah sedikit saja bisa fatal akibatnya. Diibaratkan seperti mencoba mengambil buah yang amat manis di pohon yang tumbuh di bibir jurang dan pada ranting pohon tempat itu berada ada seekor ular buas yang sedang tidur. Saat mengambil buah harus perlahan karena suara gemerisik daun yang tersentuh akan membangunkan sang ular. Ketika menaiki pohon pun harus tenang tanpa menimbulkan suara yang bisa membangunkan sang ular dan agar tidak terjatuh ke dalam jurang yang penuh tumbuhan berduri.
Selalu mencoba untuk tidak berbohong dalam keadaan apa pun kecuali jika terpaksa dan demi kebaikan, tapi kebohongan rasanya tetaplah salah. Walau dengan beribu alasan atau setidaknya sepuluh alasan tetap saja berbohong itu salah. Sadar bahwa kebusukan yang disembunyikan pasti akan tercium juga secerdik apapun usaha untuk menyembunyikannya. Tapi, aku masih manusia normal yang takut kebohongan ku sendiri akan terbongkar. Tak sanggup melihat wajah yang selama ini berusaha ku jaga agar selalu tersenyum dan ceria berada di sekitar ku dan sudi kiranya memegang gelar sebagai teman dalam hidup ku. Cinta yang tumbuh dari benih kasih saying sebagai saudara di lingkungan pergaulan dan pertemanan, tak ingin ini ternodai dan lebih dari itu tak ingin menjadi keeping penyesalan yang tak akan bisa di ubah.
Maaf, kata yang mudah tapi tak semudah untuk diterima oleh mereka yang merasa tersakiti dan terhabisi rasa welas asihnya. Tak sepadan dengan itu, kebencian bisa saja merasuk hingga kata maaf itu tak akan bisa terdengar apalagi bisa diterima. Pertahanan yang tak pernah bosan dikuatkan akhirnya runtuh dengan setitik kesalahan yang terus berusaha ditutupi dengan seribu satu macam cara. Bahagia yang terasa hanya sesaat hanya bisa terbalas tangis penyesalan yang tiada henti singgah dalam benak dan kehidupan yang akhirnya hanya penuh penyesalan. Kasih yang tulus hanya dianggap kedok untuk bisa dimaafkan. Memang kemungkinan terbesar bahwa tidak ada seorang penjahat yang dengan sadar mengakui kesalahannya di depan jaksa. Kejahatan ini memanglah bukan tindak criminal yang benar-benar diatur dalam pasal-pasal Negara yang berarti tindak pidana yang harus ditindak lanjuti. Tapi aku tau dan aku percaya, dalam pelajaran kehidupan ini tidak dibenarkan.
Teman, lebih dari sekedar teman dan selamanya kita akan menjadi bagian dari keluarga kecil dalam kisah perjalanan hidup yang keras ini. Bukan untuk berpuitis ria ataupun mengumbar penyesalan agar dimaafkan. Tapi inilah ketulusan yang lebih sering terbalas oleh cacian. Maaf karena selama ini menjadi penyelinap dalam cerita hidup mu sehingga jalan cerita mu menjadi tergores keburukan dari jejak hidup ku dalam cerita mu. Penyesalan seumur hidup yang tak akan bisa terlupakan akan memberikan sebuah pelajaran berharga dalam hidup. Penyesalan selalu datang belakangan dan tak akan terlupakan.

Salam kasih yang tulus untuk semua teman saudara ku dimana pun kalian berada.