Ada dalam 3 kubu yang berbeda..
harus penuh hati-hati setiap kali ingin mengambil suatu langkah yang harus
punya alasan jelas apa sebab dan tujuannya. Salah sedikit saja bisa fatal
akibatnya. Diibaratkan seperti mencoba mengambil buah yang amat manis di pohon
yang tumbuh di bibir jurang dan pada ranting pohon tempat itu berada ada seekor
ular buas yang sedang tidur. Saat mengambil buah harus perlahan karena suara
gemerisik daun yang tersentuh akan membangunkan sang ular. Ketika menaiki pohon
pun harus tenang tanpa menimbulkan suara yang bisa membangunkan sang ular dan
agar tidak terjatuh ke dalam jurang yang penuh tumbuhan berduri.
Selalu mencoba untuk tidak
berbohong dalam keadaan apa pun kecuali jika terpaksa dan demi kebaikan, tapi
kebohongan rasanya tetaplah salah. Walau dengan beribu alasan atau setidaknya
sepuluh alasan tetap saja berbohong itu salah. Sadar bahwa kebusukan yang
disembunyikan pasti akan tercium juga secerdik apapun usaha untuk menyembunyikannya.
Tapi, aku masih manusia normal yang takut kebohongan ku sendiri akan
terbongkar. Tak sanggup melihat wajah yang selama ini berusaha ku jaga agar
selalu tersenyum dan ceria berada di sekitar ku dan sudi kiranya memegang gelar
sebagai teman dalam hidup ku. Cinta yang tumbuh dari benih kasih saying sebagai
saudara di lingkungan pergaulan dan pertemanan, tak ingin ini ternodai dan
lebih dari itu tak ingin menjadi keeping penyesalan yang tak akan bisa di ubah.
Maaf, kata yang mudah tapi tak
semudah untuk diterima oleh mereka yang merasa tersakiti dan terhabisi rasa
welas asihnya. Tak sepadan dengan itu, kebencian bisa saja merasuk hingga kata
maaf itu tak akan bisa terdengar apalagi bisa diterima. Pertahanan yang tak
pernah bosan dikuatkan akhirnya runtuh dengan setitik kesalahan yang terus
berusaha ditutupi dengan seribu satu macam cara. Bahagia yang terasa hanya
sesaat hanya bisa terbalas tangis penyesalan yang tiada henti singgah dalam
benak dan kehidupan yang akhirnya hanya penuh penyesalan. Kasih yang tulus
hanya dianggap kedok untuk bisa dimaafkan. Memang kemungkinan terbesar bahwa
tidak ada seorang penjahat yang dengan sadar mengakui kesalahannya di depan
jaksa. Kejahatan ini memanglah bukan tindak criminal yang benar-benar diatur
dalam pasal-pasal Negara yang berarti tindak pidana yang harus ditindak
lanjuti. Tapi aku tau dan aku percaya, dalam pelajaran kehidupan ini tidak
dibenarkan.
Teman, lebih dari sekedar teman
dan selamanya kita akan menjadi bagian dari keluarga kecil dalam kisah
perjalanan hidup yang keras ini. Bukan untuk berpuitis ria ataupun mengumbar
penyesalan agar dimaafkan. Tapi inilah ketulusan yang lebih sering terbalas
oleh cacian. Maaf karena selama ini menjadi penyelinap dalam cerita hidup mu
sehingga jalan cerita mu menjadi tergores keburukan dari jejak hidup ku dalam
cerita mu. Penyesalan seumur hidup yang tak akan bisa terlupakan akan
memberikan sebuah pelajaran berharga dalam hidup. Penyesalan selalu datang
belakangan dan tak akan terlupakan.
Salam kasih yang tulus untuk semua
teman saudara ku dimana pun kalian berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar