Harusnya saya memang
kembali ke sini, ke dunia yang tanpa ada batasan apa lagi konflik yang mungkin
saja terjadi di dalamnya. Inilah dunia yang tadinya berusaha saya jauhi karena
tak sanggup untuk mengingat janji yang harusnya bisa saya tepati dalam waktu
dekat ini. Tapi mau bagaimana lagi? Waktu sudah berjalan begitu lama dari waktu
yang harusnya bisa saya manfaatkan untuk
hal yang lebih baik. Tak ada yang bisa di salahkan jika sudah begini. Tapi
seperti biasa yang mungkin sudah tak perlu ditebak, saya menyalahkan diri saya sendiri.
Mau apalagi? Saya tak bisa menyalahkan orang lain begitu saja, saya berpegang
teguh bahwa apa yang saya jalani dalam hidup ini adalah berkat karma yang saya
bawa sejak lahir dan ada sejak lama dari yang bisa saya ketahui. Bukan maksud
saya untuk menyombongkan diri atas apapun yang sudah bisa saya ketahui di
dewasa kini. Saya disini hanya menjadi mahkluk hina yang mencoba untuk
mengeluarkan suatu hal yang saya sendiri tidak bisa memahami apa itu.
Sesuatu selalu
terasa bergejolak dalam hati ini tanpa tahu itu apa dan mengapa bisa terjadi
begini, saya hanya bisa diam. Andaikan saya bisa berada pada posisi saya yang
dulu dimana tak pernah ada kata sepi rasanya selain ditemani oleh kawan lama
yang tak henti mengumbar canda. Tawa yang kami buat memang tak semenggelikan
seperti mereka yang mempunyai humor tinggi. Cukup hanya dengan itu saja kami
sudah merasa bagai saudara. Kebebasan yang kami rasa amatlah begitu berasa
dalam nafas hidup yang rasanya tak tahu akan berakhir dimana. Yang kami percaya
kami akan terus bersama hingga nanti nafas kami menemukan tempat terakhir yang
ingin mereka jejaki. Kaki yang sejatinya akan meninggalkan jejak yang telah
kami lewati, tapi dengan kisah yang kami pahami dan begitu kami nikmat kaki ini
tak hanya sekedar menjadi peninggal jejak tapi kaki ini akan menjadi penghantar
kami di kebahagiaan terindah kami di penghujung sana.
Persahabatan yang kata sahabat lebih dari
sekedar pacar, istimewa dan begitu berharga. Memang begitu adanya dan memang
begitulah yang kami semua jalani. Kami memang masih terlalu dini untuk bisa
membagi dan menyimpulkan sendiri. Tapi beginilah kami yang akan terus mencoba
dan tak lelah pula untuk membenahinya nanti di saat kemampuan kami terisi
kembali dan lebih tangguh lagi. Meski kini semua terasa begitu istimewa tapi
tetap saja sisi gelap yang berusaha tak didekati semakin lama kian akan
mendekat dan tibanya nanti harus ada cahaya yang menerangi dan membenahi apa
yang ada rusak disana.
Sahabat yang tak
bisa dibiarkan pergi begitu saja meski ia atau diri ini sendiri yang bersalah.
Saya hanya ingin menahan sahabat saya! Harta paling berharga yang menjadi
pelengkap dari kesempurnaan karma serta hasilnya di dunia. Sehina apapun dia
sekarang, tetap saja kami pernah sama-sama tulus saling memahami. Kami yang
senantiasa melangkah bersama memalalui rintangan yang kami sendiri pun tak
yakin untuk bisa menyelesaikannya. Ini kami dan tak bisa menjadi dua hanya
karena masalah dunia keji yang berusaha memisahkan kami. Uji yang begitu
menantang membuat kami dibutakan dari segala keberhasilan perjuangan yang
seharusnya kami sadari. Tuhan Maha Tahu siapa saja yang pantas di uji. Saya
pemikir dari segala tulisan yang saya buat dan sekarang saya adalah pemikir
dari segala pernyataan yang bisa saya nyatakan. “Kita ini manusia kuat kawan,
Tuhan mencoba menguji kebersamaan kita dengan hal kecil semacam ini. Kembalilah
kawan.. tunjukan pada Tuhan bahwa kita pantas untuk menggenggam bintang besar
yang ingin kita miliki. Tunjukan siapa kita!”
Andai .. hanya bisa
berandai-andai di depan kaca ini. Tuhan Yang Maha Adil, tunjukan arti dari
jejak kami yang sudah lama kami lalui. Hingga kini saya masih menanti sahabat
saya kembali meski takut untuk menerima kenyataan dan segala kemungkinan
terburuk yang bisa saja terjadi, saya percaya, saya selalu percaya.. Engkau tak
akan member beban lebih dan lebih besar dari kemampuan hamba-Mu ini.
“Saya kangen kamu dan saya tahu kamu tak pernah
ingin tahu itu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar