Halaman

Kamis, 07 Maret 2013

IN 2


Itu yang ku sebut cinta dan kasih sayang, sebagai saudara dan kekasih. Itu yang aku sebut tangisan, untuk dia yang ku cintai dan aku kasihi. Dalam dua dunia yang berbada dimana batas langit dan bumi nampak dengan jelas, disanalah kita bertemu dan memulai cerita baru. Dalam batasan yang aku sendiri pun tau, terpaksa aku jalani demi mimpi yang ku rasa sudah ada di depan mata menggapai langit. Ku tatap langit yang cerah, kekosongan batin ku kini dipenuhi oleh sang langit yang memenuhi seluruh alam sadar dan bawah sadar ku. Ku dapati ia berada di atas ku dalam perbedaan nyata dimana tak ada kemungkinan untuk langit dan bumi bisa bersatu bahkan di batas penghujung titik temu keduanya.
Dalam dua perbedaan ku temukan sebuah jawaban kalian tak akan pernah menyatu. Aku mengernyit mencoba berpaling untuk pernyataan yang memberatkan. Aku menatap langit tidak, kita akan terus bersama begitu katanya. Aku yakin dengan katanya, dalam batas ini pun aku masih bisa melihat bayang wajahnya. Dalam canda kami terus bisa tertawa menikmati kehangatan kebersamaan. Ujung yang ku tau mungkinlah buruk dimana tak kan ada lagi cerita antara langit dan bumi yang bisa bersatu. Penyesalan tentulah ada akan hadirnya cerita bahwa di ujung dunia akan ada tempat dimana langit dan bumi akan bersatu. Nyatanya? yang ku lihat tak ada benarnya. Kami berdua seolah terlahir dari air dan api yang tak akan mungkin pernah bisa menyatu dalam titik temu yang ku sebut itu batasan akhir cerita. Kami seperti hitam dan putih dimana akan nampak jelas perbedaan diantara keduanya. Tak seperti titik sudut yang membentuk suatu lingkaran dimana pada setiap segi tak nampak adanya batasan. Ironi ku rasa, dimana siang dan malam tak mungkin hadir bersama di satu tempat dan satu waktu. Itu jelas hal yang mustahil, dimana perbedaan yang kontras akan jelas terlihat. Dia sendiri pun terus mencoba untuk berlari dari kenyataan pahit diantara kami ini. Aku menangis dalam tangis hening ku, mencoba untuk tegar dan melawan. Dimana yang aku temui tak ada satu orang pun yang akan mengerti. Tak ada orang lain yang bisa mengerti dirimu selain dirimu sendiri. Aku ingat kata-kata itu disaat aku meminta untuk dimengerti dan dipahami dan hasilnya nihil. Aku terlempar sendiri dalam kekosongan yang begitu menyiksa. Begitu agungnya sang langit hingga aku tak bisa meraihnya atau sekedar menggapainya. Indah, ku rasakan perasaan ini semakin indah saat sentuhan lembut yang penuh akan kasih sayang dan kepedulian untuk pertama kali menyentuh setiap bagian indra peraba ku. Aku terdiam menikmati dan meresapi setiap sentuhan yang ku rasa adalah wujud kasih sayang hingga batasnya kami temukan kebahagiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar