Halaman

Kamis, 07 Februari 2013

TUAN


Aku selalu miliki lagu indah yang disetiap ku berada tanpa hadirmu atau sekedar tau keadaan mu. Tak ada yang pernah mendengarnya memang, bahkan untuk ku sendiri terlalu sulit karena lagu ku ini teralu sulit tuk dijelaskan. Bahkan kisah yang ku agungkan ini terlalu sempurna untuk diceritakan pada setiap pasang telinga yang ingin tau. Cerita ini begitu sempurna kurasa, belum pernah aku merasa sebahagia ini apa lagi menjadi salah satu tokoh utama dalam cerita yang selalu ku anggap sempurna. Sempurna di mata ku dan siapapun yang tau. Aku bahagia, sangat bahagia dan teramat berbahagia. Walau mungkin aku tau bahwa aku akan merasakan kisah ini sendiri tanpa tokoh lawan ku yang seharusnya menjadi pelengkap setiap jalan episode dalam cerita ini. Sulit memang, tapi aku harus tetap memainkan peran ku walau itu adalah sebuah pengkhianatan untuk hati ku sendiri dan rasanya pasti tak kan semudah yang dipikirkan. Aku akan menjalankan peran yang seharusnya dilakukan oleh dua orang yang akan sempurna, tapi harus ku jalankan seorang diri tanpa hadirnya lawan peran ku.
“Tuan tau? Betapa saya begitu menginginkan tuan untuk menjadi milik saya, menemani saya sepanjang hari, melindungi saya, kita tertawa bersama, selalu bergandengan, berpelukan dan berciuman. Tuan begitu sempurna di mata saya. Sudah lama sebenarnya saya menginginkan seseorang yang seperti tuan yang mau untuk memiliki dan dimiliki oleh saya, sekarang tuan hadir menjawab semua ini. Tuan menyatakan apa yang tak pernah bisa saya pikirkan dan bayangkan bahwa tuan menyatakan hal yang sudah lama saya harapkan dari tuan. Awalnya tuan membuat saya ragu, hingga rasa ini saya rasakan sebagai paksaan dan atas apa yang telah tuan lakukan pada saya, saya menjadi tunduk dan takhluk kepada tuan. Sungguh sampai detik ini saya masih meragukan perasaan tuan kepada saya, saya takut tuan seperti sahabat tuan yang pada akhirnya menyesal karena melakukan kesalahan besar di masa hidupnya untuk membuat cerita bersama saya. Tuan, betapa saya merindukan tuan. Di setiap nafas yang saya hembuskan tak pernah sedikit pun saya melupakan tuan. Tuan begitu berharga untuk saya saat ini dan sejak dulu hingga nanti, saat nafas terakhir saya hembuskan. Saya tau saya lancang untuk berani bermain-main dengan tuan saya sendiri, tapi ini bukan main-main karena saya sangat menginginkan hal serupa, hal yang dianggap perlu dalam hidup. Hidup bersama dengan orang yang dicinta. Begitu berartinya tuan hingga saya rela melakukan apapun karena tuan dan untuk tuan. Berpikir rasional pun saya rasa tak bisa, tuan telah memenuhi seluruh bagian tubuh saya yang bukan hanya otak tetapi juga hati, ginjal, jantung bahkan disetiap aliran darah yang melalui setiap pembuluh yang ada pada tubuh saya ini.”
Betapa aku mencintai mu hingga aku tak tau bagaimana cara mengungkapkan itu, hingga mungkin akhirnya aku akan terlambat. Terlambat untuk menyatakan dan kau akan bersama yang lain di singgasana terindah mu. Hingga akhirnya aku hanya akan memilih kematian agar aku tak akan merasakan lagi kehilangan atas diri mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar