Aku selalu miliki
lagu indah yang disetiap ku berada tanpa hadirmu atau sekedar tau keadaan mu.
Tak ada yang pernah mendengarnya memang, bahkan untuk ku sendiri terlalu sulit
karena lagu ku ini teralu sulit tuk dijelaskan. Bahkan kisah yang ku agungkan
ini terlalu sempurna untuk diceritakan pada setiap pasang telinga yang ingin
tau. Cerita ini begitu sempurna kurasa, belum pernah aku merasa sebahagia ini
apa lagi menjadi salah satu tokoh utama dalam cerita yang selalu ku anggap
sempurna. Sempurna di mata ku dan siapapun yang tau. Aku bahagia, sangat
bahagia dan teramat berbahagia. Walau mungkin aku tau bahwa aku akan merasakan
kisah ini sendiri tanpa tokoh lawan ku yang seharusnya menjadi pelengkap setiap
jalan episode dalam cerita ini. Sulit memang, tapi aku harus tetap memainkan
peran ku walau itu adalah sebuah pengkhianatan untuk hati ku sendiri dan
rasanya pasti tak kan semudah yang dipikirkan. Aku akan menjalankan peran yang
seharusnya dilakukan oleh dua orang yang akan sempurna, tapi harus ku jalankan
seorang diri tanpa hadirnya lawan peran ku.
“Tuan tau? Betapa
saya begitu menginginkan tuan untuk menjadi milik saya, menemani saya sepanjang
hari, melindungi saya, kita tertawa bersama, selalu bergandengan, berpelukan
dan berciuman. Tuan begitu sempurna di mata saya. Sudah lama sebenarnya saya
menginginkan seseorang yang seperti tuan yang mau untuk memiliki dan dimiliki
oleh saya, sekarang tuan hadir menjawab semua ini. Tuan menyatakan apa yang tak
pernah bisa saya pikirkan dan bayangkan bahwa tuan menyatakan hal yang sudah
lama saya harapkan dari tuan. Awalnya tuan membuat saya ragu, hingga rasa ini
saya rasakan sebagai paksaan dan atas apa yang telah tuan lakukan pada saya, saya
menjadi tunduk dan takhluk kepada tuan. Sungguh sampai detik ini saya masih
meragukan perasaan tuan kepada saya, saya takut tuan seperti sahabat tuan yang
pada akhirnya menyesal karena melakukan kesalahan besar di masa hidupnya untuk
membuat cerita bersama saya. Tuan, betapa saya merindukan tuan. Di setiap nafas
yang saya hembuskan tak pernah sedikit pun saya melupakan tuan. Tuan begitu
berharga untuk saya saat ini dan sejak dulu hingga nanti, saat nafas terakhir
saya hembuskan. Saya tau saya lancang untuk berani bermain-main dengan tuan
saya sendiri, tapi ini bukan main-main karena saya sangat menginginkan hal
serupa, hal yang dianggap perlu dalam hidup. Hidup bersama dengan orang yang
dicinta. Begitu berartinya tuan hingga saya rela melakukan apapun karena tuan
dan untuk tuan. Berpikir rasional pun saya rasa tak bisa, tuan telah memenuhi
seluruh bagian tubuh saya yang bukan hanya otak tetapi juga hati, ginjal,
jantung bahkan disetiap aliran darah yang melalui setiap pembuluh yang ada pada
tubuh saya ini.”
Betapa aku mencintai
mu hingga aku tak tau bagaimana cara mengungkapkan itu, hingga mungkin akhirnya
aku akan terlambat. Terlambat untuk menyatakan dan kau akan bersama yang lain
di singgasana terindah mu. Hingga akhirnya aku hanya akan memilih kematian agar
aku tak akan merasakan lagi kehilangan atas diri mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar