Awal langkah menuju perubahanku untuk ke
depan. Lewati rintangan yang ku tau tak lah semudah yang dibayangkan. Kini aku
tersadar aku tersesat menuju jalan perubahan ku. Luka masa lalu terlalulah
menjerat ku. Mencoba menarik-narik lirik hidup ku yang telah kunyanyikan
sebelumnya. Ternyata percuma. Tak sedikitpun diantara itu yang membuatku tak
menangis. Langkah ku kian lemah, terlebih saat ku sadari bahwa ternyata aku
sendiri. Aku berbalik, tak ada siapapun. Hanya baying-bayang masa lalu dan
samar-samar ku lihat mereka yang tak terlalu memperdulikan ku. Ku tolehkan
wajah ku ke arah samping, ku lihat sesosok berdiri mendekat dengan ku. Kau..
sosok yang cukup lama aku nantidan akhirnya kembali juga. Disisiku. Ku coba
dekati mu, dan kau mencoba membimbing ku. Bersama kita melewati arah jalan
kehidupan ini. Dan aku tersadar, kau tak sepenuhnya nyata dan terasa maya.
Sentuhan mu begitu dingin ku rasa, bahkan sosok mu terasa kabur dalam baying
bentuk pada retina kedua mata ku. Ku tatap lagi sosok mu lebih dalam. Entah apa
ini, ku rasakan sesuatu yang lain.
Kau memang sosok yang aku damba cukup lama.
Dan aku tau itu, kau begitulah sangat berarti. Yah, aku tak pernah lupa bahwa
dahulu kaulah pengisi hari-hari ku. Hari-hari ku yang kelam, gelap, sepi, dan
menyedihkan untuk diingat. Dulu kita begitu dekat, hingga kini ku rasa dan
semakin erat. Senyum mu ku lihat semakin tulus untuk terus menyangi ku.
Batas waktu ku ternyata habis. Harus ada
yang ku akui atas semua ini. Ya, aku menginginkan sesuatu dari mu dan aku tau
itu, hal menakutkan yang sesungguhnya tak pernah ingin kurasakan lagi hingga
jauh nanti. Tapi kau? Membuat ku untuk mengakuinya. Aku bersama waktu ku
masihlah tetap bernyanyi. Lagu ku, terseret bersama mu dalam jiwa ku.
Hari itu ketika kita bersama. Di sudut
keramaian kita memisah menjadi setitik embun. Kau dan aku bernyanyi bersama
lagu rindu dan kasih saying yang selama ini terpendam. Dalam pelukan yang ku
rasa hangat. Dapat aku rasakan detak jantungmu, berdegup kencang yang ku rasa
aneh dan lucu ku rasa. Kau yang selama ini ku rasa takut untuk sekedar
menyentuh ku, kini ada dalam peluk ku dan mendekap ku erat. Dapat ku hirup hawa
tubuh mu, nyaman yang selalu aku rasa. Ku tatap wajah mu untuk kesekian
kalinya, kau beranikan diri untuk mengecup bibir ku. Kita bersama jatuh dalam
lubang yang sama, dan aku rasa tau bahwa itu keliru.
Ku kira kita mencoba keluar dari kekeliruan
yang kita buat tapi tidak, kita semakin jatuh dan terlalu dalam. Hingga
akhirnya kau lebih dulu mengakui itu. CINTA. Yang kau ucap bukanlah yang selalu
ku harap. Tapi ternyata itulah yang harus ku akui. Cinta terlarang kita, harus
kita jaga hingga batas waktunya. Aku tau ini tak mungkin dan mustahil rasanya,
tapi aku ingin. Ingin untuk menjadi milik mu dan memiliki mu dan terus bersama
mu hingga batas waktu ku.
Aku memanglah tak sempurna dan terlalu jauh
buruknya. Tapi aku tak ingin putus berharap. Bersama mu yang ku harap, berada
di samping mu. Menjadi yang kau mau dan terus membuat mu tersenyum. Mengikuti
yang kau mau dan terus membuat mu tersenyum. Mengikuti setiap langkah hidup mu.
Beriringan kita lalui bersama alur hidup ini. Menuju satu harapan kebahagiaan
kita. Hingga akhir batas waktu kita, kita tersenyum di hari senja kita. Dan aku
teramat bahagia telah menjadi seperti yang kau inginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar