#Curhatan dari saudari ku Qhyiitx
Sudah lama saya bersama orang ini, tak cukup setahun bahkan 5 tahun, lebih dari itu saya sudah mengenalnya. Dan saya pun sudah cukup lama bersama orang ini. Mulai membaca perilaku dan sifatnya. Orang ini mempunyai karakter yang cukup sulit menurut saya, sulit untuk dibaca dan ditebak. Menurut saya orang ini istimewa. Menganggap dirinya sedemikian rupa istimewa dan membuat orang lain berpikir demikian pula. Di sudut matanya saya tau dia memiliki watak yang keras namun lembut dan penyabar. Saya sudah mencoba untuk semakin mendekat, hingga batas akhir saya bisa mendekatinya. Dia orang baik, cukup baik untuk bisa menerima orang lain tanpa memandang dari luar. Dia cukup tangguh untuk menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya. Saya kagum akan hal itu karena saya memang sangat menyukai tipe seperti itu. Saya cukup punya banyak teman dan rasanya hanya beberapa saja yang mempunyai sifat demikian. Saya memberanikan diri untuk terus terhanyut dalam setiap kehidupannya walaupun nyata saya tak benar-benar ada dalam setiap langkah atau dalam kehidupannya. Menyakitkan memang, tapi inilah bentuk ketulusan saya hingga tak terasa bahwa saya sudah diinjak-injak dan menjadi sangat teramat rendahan. Saya berusaha tegar menjalani kehidupan dengan biasa seolah tak ada duri-duri kecil dalam batin saya yang tak hentinya menusuk hingga hati saya mempunyai batas perekat yang mungkin saja bisa retak. Saya bersama keheningan dan kesunyian selalu lah untuk menangis. Bukan saja karena orang itu tapi karena jalan hidup yang rasanya tak henti membuat saya bingung dan tersesat. Rasanya hanya saya yang memiliki denah hidup yang begitu rumit. Hingga akhirnya untuk beberapa kali saya mencoba untuk mengakhirinya. Dihadapan Tuhan saya tak henti memohon petunjuk. Rasanya Tuhan memang mengijinkan saya untuk memutus jalan kehidupan yang benar adanya di mata Tuhan bahwa itu memanglah sudah berakhir hingga tak ada lagi jalan yang bisa saya lalui lagi kecuali menuju kepada-Nya.
Akhir-akhir ini saya punya banyak masalah. Sekolah, keluarga, teman, masa depan, dan 'dia'. 'Dia' cukup dengan kata ini saya tak pernah ingin menyebut namanya. Orang yang sudah lebih dari sekedar menyakiti bahkan menginjak-injak saya. Cukup rasanya pengorbanan yang sudah saya berikan dan dia hanya memandang sebelah mata bahkan tak sudi untuk memandang. Apa yang kurang? Segala yang dia ingin, segala yang dia mau, nafsu, ke-egoisan, memperbudak, penyiksaan, semua itu telah dia berikan dan saya cukup kuat hingga kini untuk menahannya. Apa yang kurang? Saya sudah seperti budak sampah yang tak ada nilainya sedikit pun. Lalu apa? Pernahkah ia mengerti bahwa saya mempunyai hati dan perasaan? Hati yang sedimikan terluka, batin yang sedimikan tersiksa, dan perasaan yang sedimikian hancur setiap saat hanya dengan memikirkannya. Mungkin hanya dengan kematian dia bisa merasakan kemenangan dan merasakan terbebas dari budak yang selama ini ia benci dan ia manfaatkan. Sudah, saya sudah sampai diakhir cerita hidup. Takut untuk mengakhiri dan takut untuk melanjutkan dan terus menatap ke depan. Andai akan ada 1 malaikat yang ikhlas untuk sekedar mendengar dan menemani kesendirian saya, mungkin saya bisa menjadi lebih tegar.
Untuk dia yang masih akan selalu saya cintai dan sayangi, ketahuilah bahwa diri ini sudah sedemikan tersiksa. Sulit untuk bangkit apalagi untuk membenahi diri. Kapan kelak uluran tangan mu yang seperti dulu kan menggantung di atas kedua mata ku yang menunggu untuk ku sambut. Aku merindukan mu lebih dari yang kau tau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar